Sungguh manusia itu dilahirkan dengan keadaan yang fitrah. Dengan keadaan yang suci dan belum tersentuh dengan berbagai macam dosa. Namun seiring dengan berjalannya waktu, manusia itu semakin tumbuh dengan cepatnya. Dua tahun dia mulai belajar melangkah, setelah itu 3 tahun kemudian ia mulai belajar mengungkapkan ekspresinya lewat sebuah kata-kata. Kemudian pada saat umur sudah mencapai 7 tahun , mulai mengenal apa arti sebuah persahabatan. Saat ia beranjak menjadi seorang remaja, maka ia sudah mengenal yang namanya cinta. Inilah yang terkadang orang sering salah dalam mengartikannya. Entah karena salah dalam pergaulannya atau karena didikan kedua orang tuanya.

Cinta yang seperti apakah yang dapat memberikan sebuah kekuatan yang besar dalam menjalani hidup ini? Tidakkah Rasul sudah memberikan sebuah jawaban, bahwa Allah dan RasulNya lebih berhak dia cintai daripada keluarganya dan manusia pada umumnya. Lantas mengapa masih banyak orang yang terjerumus dalam kata-kata “cinta” itu sendiri.

Perhatikan saja, berapa banyak orang yang menjadi korban atas nama cinta. Sebut saja mulai dari sakit hati, diputusin ama kekasih, hamil di luar nikah ato bahkan yang lebih ekstrem lagi yakni bunuh diri. Cukup miris kita mendengarkannya. Hanya karena seorang yang kita cintai, lantas kita mau melakukan apapun yang dia minta. Padahal belum tentu juga dia cinta kepada kita. Ya kan??!

Itulah tipu daya syaitan wahai kawan. Dia (syaitan) tidak akan pernah menyerah dalam hal menggoda manusia. Ia akan terus mencari teman di dunia untuk dapat diajak “ngobrol” bersamanya di nerakaNya kelak. Ia tidak ingin sendiri kawan. Maka waspadalah oleh kalian terhadap segala bujuk rayu syaitan. Karena ia merupakan musuh yang nyata bagimu.

Lebih baik kita persembahkan rasa cinta itu kepada sesosok manusia yang telah memberikan kita sebuah kasih sayang kepada kita. Setelah kita meletakkan kewajiban rasa cinta kita kepada Allah dan RasulNya maka siapa lagi yang berhak kita cintai selain kedua orang tua kita?? Dialah yang telah berjasa besar dalam menjadikan kita hingga sampai sejauh ini.

Maka renungkanlah wahai kawanku….

Ingatkah kau saat engkau terkulai tak berdaya kecuali engkau hanya mampu menangis..

Ingatkah engkau saat-saat ibumu menyapihmu dengan penuh kesabaran, tetesan air mata, bahkan ia rela tidak tidur saat malam harinya hanya untuk menjagamu..

Ingatkah engkau saat engkau terjatuh, kemudian kedua orang tuamu memberikan bantuan berupa dorongan semangat agar engkau bangkit kembali

Pernahkah engkau berpikir saat kedua orang tuamu bekerja keras dalam mencari nafkah…untuk siapa?…tidak lain adalah untuk keluarganya dan segala kebutuhan sekolahmu. Mereka rela bekerja dengan mengorbankan badannya demi melihat anaknya sukses kelak..

Merasa sedihkah engkau saat kedua orang tuamu sudah tidak lagi mampu mencari nafkah untukmu, namun justru engkau menyia-nyiakannya..

Cintakah engkau kepada mereka berdua saat mereka sudah terkulai lemas, tidak mampu lagi melakukan apa-apa. hanya senyuman yang menghiasi wajahnya melihat anaknya sukses….rasa bahagia yang sungguh mahal kawan harganya….tidak akan terbeli oleh apapun..

Ingatlah wahai kawanku, saat dia mungkin tidak bisa berada lagi di sampingmu untuk senantiasa memberikan semangat kepadamu, memberikan bantuan doa kepadamu, memberikan kasih sayang yang hangat kepadamu….…

Maka pesanku, jagalah senantiasa mereka sebelum engkau menyesal di kemudian hari.

Advertisement